"Hidup mahasiswa! hidup mahasiswa! Itu biasanya yang diteriakan pelajar yang satu ini kalau sedang berdemo ataupun sedang dalam perkumpulan. Mahasiswa, kita kenal pelajar yang satu ini bisa dibilang rajanya pelajar karena mahasiswa merupakan tingkatan paling tinggi disemua siswa. Bukan hanya tingkatannya saja, melainkan dalam bersikap, cara berpikir, cara menyelesaikan masalah, bahkan banyak yang bilang mahasiswa adalah Agent of change. Kenapa banyak yang berkata demikian, karena mahasiswa lebih peka terhadap gejala-gejala sosial yang terjadi serta mereka banyak berpikir independen dan banyak menuangkan ide-ide juga dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Ini mengapa banyak mahasiswa berdemo untuk kepentingan rakyat karena sesuatu yang menyimpang terjadi di dalam masyarakat pasti mahasiswa lah yang turun aksi. Tapi apakah sebutan Agent of change itu berlaku dengan mahasiswa sekarang? kita lihat banyak juga penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam ruang lingkup mahasiswa ini. Misalnya saja dalam mendapatkan beasiswa yang menuntut mahasiswa untuk harus mendapatkan minimal IP tinggi atau rata-rata. Padahal belum tentu mahasiswa tersebut benar-benar murni nilai hasil usahanya sendiri, bisa saja pada saat dia selama kuliah men "copy paste" tugas yang diberikan dosen, bisa saja pada saat UTS atau UAS mahasiswa berebut duduk paling belakang karena bisa lebih leluasa mencontek sana dan sini. Saat perkuliahan pun mahasiswa kebanyakan hadir dalam perkuliahan numpang absen, duduk paling belakang dan ngobrol ataupun sibuk dengan gadgetnya masing-masing saat dosen menerangkan. Belum tentu pelajaran yang diterangkan masuk, mereka hanya mendengarkan tanpa adanya proses pemahaman materi, ibarat masuk telinga kiri keluar telinga kanan tanpa sedikitpun materi yang nyangkut di otak.
Lantas apa yang mereka dapat selama perkuliahan? Jauh-jauh dari kampung halaman hanya untuk buang-buang waktu, pikiran serta uang orang tua. Hanya mementingkan gaya hidup, nongkrong-nongkrong di tempat gaul, mengobrol atau membahas yang tidak penting. Sibuk mencari pacar dikampus, buang-buang uang orang tua hanya untuk nongkrong, membiayai kebutuhan pacarnya, ataupun membeli barang-barang yang mungkin kurang penting untuk dipamerkan. Apakah mahasiswa sekarang tidak berpikiran bahwa kuliah itu adalah jenjang terakhir untuknya bersiap terjun ke masyarakat? Kalau mereka terus melakukan hal-hal yang tidak penting seperti itu, bersiap-siap saja untuk mendapat penyesalan. Sedangkan dunia ppekerjaan menuntut sesorang untuk mempunyai keahlian tertentu untuk bisa diterima di tempat kerja, tapi pada kenyataanya mereka tidak mempunyai skill atau kemampuan yang seharusnya mereka dapatkan sewaktu kuliah. Setelah mendapatkan kekecewaan tersebut barulah timbul menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dengan KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme). Belum lagi ketika lulus kuliah mereka kerja tidak sesuai dengan bidangnya, misalkan lulusan S1 guru tapi kerja di Bank. Dan juga mereka mendapatkan pekerjaan karena ada orang dalam yang membantu.
Jadi inikah potret Mahasiswa sekarang? Benarkah mahasiswa Agent of Change? Kalau dilihat dengan kenyataanya, Agent of Change benar-benar jauh dari kata tepat untuk mahasiswa. Mau sampai kapan para mahasiswa Indonesia seperti ini? Ayolah, mahasiswa stop buang-buang waktu kalian dan lebih memperssiapkan diri kalian untuk kehidupan nyata. jangan sia-siakan pengorbanan orang tua kalian yang berjuang untuk menekolahkan kalian ke jenjang perkuliahan.